Tafsir Surah An-Naziat (Bag. 5): Keadaan Akhir Manusia di Hari Kiamat
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelumnya telah menjelaskan penciptaan langit dan bumi, serta berbagai keajaiban ciptaan dan pengaturan. Penyebutan berbagai hal tersebut untuk menunjukkan dalil adanya hari kiamat yang dapat direnungkan oleh akal. Allah mampu menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, maka Allah juga bisa menghancurkan dan menghidupkannya kembali.
Kemudian di ayat-ayat setelahnya, Allah menjelaskan secara nyata tentang apa saja yang terjadi di hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى
“Maka, apabila malapetaka terbesar (hari kiamat) telah datang.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 34)
Kiamat adalah suatu bencana dan kehancuran yang sangat besar. Ketika hari kiamat datang, kengeriannya meliputi segala sesuatu di alam ini, jauh melebihi bencana apapun yang pernah terjadi.
قال ابن عباس: هي القيامة سميت بذلك لأنها تطم على كل أمرٍ هائل مفظع
“Ibnu Abbas menjelaskan bahwa hari kiamat disebut sebagai at-thaammah karena kedahsyatan huru-hara kiamat tersebut akan menutupi dan mengalahkan segala bentuk perkara mengerikan dan bencana apapun yang pernah dialami manusia selama di dunia.” (Shafwatut Tafasir, 3: 491)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰى
“Pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 35)
Manusia pada hari itu teringat dengan semua kebaikan atau keburukan yang telah dia kerjakan di dunia, dirinya melihat amal-amal tersebut sudah tersusun rapi dalam catatan amal malaikat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى
“Dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 36)
Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang akan melihat neraka di hari itu. Al-Qurthubi Al-Maliki rahimahullah memberikan penjelasan tentang ayat ini,
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ أَيْ ظَهَرَتْ. لِمَنْ يَرى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُكْشَفُ عَنْهَا فَيَرَاهَا تَتَلَظَّى كُلُّ ذِي بَصَرٍ. وَقِيلَ: الْمُرَادُ الْكَافِرُ لِأَنَّهُ الَّذِي يَرَى النَّارَ بِمَا فِيهَا مِنْ أَصْنَافِ الْعَذَابِ. وَقِيلَ: يَرَاهَا الْمُؤْمِنُ لِيَعْرِفَ قَدْرَ النِّعْمَةِ وَيُصْلَى الْكَافِرُ بِالنَّارِ
“Neraka muncul dan diperlihatkan bagi orang-orang yang dikehendaki melihatnya. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa neraka akan ditampakkan sehingga terlihat jelas lagi menyala-nyala bagi setiap pihak yang memiliki penglihatan. Sebagian pendapat mengatakan bahwa yang melihat neraka dan berbagai siksa di dalamnya hanyalah orang-orang kafir. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kaum mukminin juga melihat neraka agar semakin besar rasa syukur mereka karena telah diselamatkan dari neraka dan melihat kesudahan orang kafir di neraka.” (Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 19: 207)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاَمَّا مَنْ طَغٰى
“Adapun orang yang melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 37)
Melampaui batas yang ditetapkan oleh Allah, ketika makhluk memiliki batasan sebagai hamba dari Allah Ta’ala, akan tetapi mereka terjang dan robek batas tersebut dan menyerahkan penyembahan mereka kepada selain Allah.
Mereka juga melampaui batasan dalam kehidupan bersama makhluk lain. Allah telah menggariskan batasan dengan makhluk lain dengan tidak saling menzalimi. Akan tetapi, mereka juga merusak batas ini dengan saling membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, memakan harta orang lain dengan saling menipu, menghancurkan kehormatan rumah tangga orang lain, dan perbuatan zalim lainnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا
“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 38)
Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan puncak cita-citanya. Pikiran, tenaga, dan waktu mereka habis hanya untuk menumpuk harta, mengejar jabatan, dan memuaskan hawa nafsu kebinatangan. Ketika terjadi benturan antara perintah Allah (urusan akhirat) dan kepentingan pribadi (urusan dunia), mereka tanpa ragu memilih keuntungan duniawi yang bisa cepat didapatkan. Mereka meninggalkan kewajiban, meninggalkan salat, korupsi, memakan harta haram, dan melanggar syariat demi keuntungan duniawi yang remeh temeh.
Lebih mengerikannya lagi, orang kafir merasa akan hidup kekal di dunia, mereka hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan tidak percaya (atau percaya namun abai) bahwa setiap perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Pada ayat 37 dan 38, Allah sebutkan secara global tentang kriteria penghuni neraka. Sehingga wajib bagi kita untuk muhasabah dan mengecek kehidupan keseharian kita, apakah perilaku kita dekat dan mirip dengan perilaku orang-orang kafir calon penghuni neraka tersebut ataukah tidak?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى
“Sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 39)
Neraka Jahim menjadi tempat tinggal abadi mereka, tidak ada tempat lain untuk mereka tinggal atau sekedar beristirahat dari kejamnya siksa neraka, 24 jam mereka disiksa tanpa pernah libur.
Tidak mungkin pula mereka bisa “menyuap” malaikat penjaga neraka sebagaimana yang bisa dilakukan di dunia. Karena pada hari itu, harta sudah tidak berguna, serta para malaikat senantiasa menjalankan perintah Allah tanpa bisa diganggu gugat.
Penghuni neraka juga tidak bisa memelas kesakitan mencari empati dari malaikat yang keras dan siksaannya mengerikan. Seberapapun mereka memelas kesakitan, api akan tetap membakar mereka setiap saat, selama-lamanya. Hal yang sangat mengerikan, bahkan untuk sekedar dibayangkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى
“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 40)
Setelah Allah menyebutkan sifat-sifat penghuni neraka yang membuat kita bercermin, apakah sifat ini ada pada diri kita (tujuannya adalah agar kita jauhi), maka Allah melanjutkan dengan menyebutkan kebalikanya. Yaitu kriteria para penghuni surga yang kekal abadi, sebagai bentuk motivasi beramal agar kita bisa seperti mereka.
Ada dua sifat yang Allah sebutkan: pertama berkaitan dengan rasa takut mereka kepada Allah, ini adalah dimensi hati dan keimanan. Rasa takut ini sangat berkaitan dengan sifat kedua, yaitu mengerem diri mereka dari melakukan kemaksiatan yang didasari atas syahwat kebinatangan yang ada pada diri.
Keduanya sangat bertalian erat. Allah sebutkan rasa takut terlebih dahulu karena itu adalah asas. Ketika jiwa takut kepada Allah, maka pasti dia bisa mengerem dirinya dari maksiat. Adapun jika rasa takut hilang, merasa tidak diawasi oleh Allah, serta merasa Allah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, maka pastilah akan mudah baginya melakukan berbagai macam maksiat, meskipun tahu bahwa itu adalah hal terlarang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى
“Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 41)
Tempat tinggal mereka adalah surga Allah, suatu tempat yang penuh kenikmatan yang kekal abadi. Jagalah dua sifat di atas, maka engkau akan beristirahat di surga Allah.
Setelah Allah sebutkan sifat penghuni neraka dan surga, Allah kembali membahas kebobrokan akidah orang musyrik yang mempertanyakan kapan kiamat itu terjadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَا
“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari kiamat, “Kapankah terjadinya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 42)
Setiap hari, Rasulullah memperingatkan manusia tentang akan datangnya kiamat, serta memerintahkan untuk bersiap-siap. Namun, Nabi tidak pernah memberitahu kapan itu terjadi, karena Nabi tidak mengetahui.
Orang-orang musyrik yang kurang ajar semakin menjadi-jadi keburukannya, sehingga mereka meledek Nabi dengan mengatakan, “Kapan kiamat itu terjadi? Sudah lama engkau bercerita, setiap hari engkau menakuti kami, tapi kapan terjadinya? Kalau memang benar pasti terjadi, maka segera katakan kapan terjadinya.” Pertanyaan karena jengah dan bernada menghina.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَا
“Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 43)
Allah menjelaskan bahwa Nabi tidak mengetahui kapan itu terjadi, karena kiamat adalah rahasia besar Allah bagi para makhluk, tidak ada satupun makhluk yang mengetahui. Hikmahnya agar kita bersiap-siap, tidak berleha-leha, dan tidak meremehkannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَا
“Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 44)
Hanya Allah yang mengetahui kapan waktu tepatnya kiamat, sedang Nabi hanya diberikan tanda-tanda dekatnya saja.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَا
“Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari kiamat).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 45)
Allah membela Nabi dari pertanyaan kurang ajar yang mempertanyakan kapan kiamat, bahwasanya tugas Nabi hanyalah memberikan peringatan untuk bersiap-siap menghadapi kiamat. Peringatan ini ditujukan bagi orang yang memiliki rasa takut saat berada di persidangan Allah, merasa takut tidak bisa bertanggung jawab dengan baik atas kehidupannya di dunia.
Secara khusus, Allah sebutkan peringatan bagi orang yang takut. Hal ini karena peringatan hanya bermanfaat bagi mereka. Mereka akan mempersiapkan diri. Sedangkan orang yang tidak takut akan acuh, memandangnya dengan pandangan sinis, bahkan menghina orang yang memperingatkan akan datangnya kiamat, dimana hal ini banyak terjadi di zaman kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا
“Pada hari ketika melihatnya (hari kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 46)
Ketika datang hari kiamat, orang kafir merasa hanya tinggal sebentar saja di dunia.
Tidak perlu jauh melihat hari kiamat, kita yang saat ini berada di umur mungkin 40 tahun, 50 tahun, atau mungkin 80 tahun ketika membaca tafsir ini, kemudian mengingat kembali masa kecil kita, ketika orang tua masih hidup, ketika masih muda, kita akan merasa waktu berlalu sangatlah cepat. Seakan baru kemarin kita lalui hari-hari yang telah lewat, tidak terasa kita telah berada di hari ini, mungkin sudah di ujung umur kita, semua terasa cepat, tiba-tiba saja kita wafat, lalu tiba-tiba saja kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita.
[Selesai]
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/
Artikel asli: https://muslim.or.id/114280-tafsir-surah-an-naziat-bag-5.html